Setelah terombang-ambing dibelantara distro dan ambiguitas dengan sistem operasi keluaran Microsoft akhirnya mengucap niat dihati janji sehidup semati dengan Fedora 7. Alasan buat megang Fedora adalah paet aplikasi dan teknologinnya yang selalu up to date. Di saat distro lain belum mengimplementasikannya fedora sudah hadir dengan teknologi dan inovasi terbaru. Meski tampilannya dingin banget dari dulu jaman redHat 9 sampai Fedora 7 tetep saja bak segelas air bening! Tapi masa bodoh! Yang penting adalah fungsinya bukan fancy-nya!
Bener gak? Kalo aku amati emang gitu, ada berbagai distro linux dengan keistimesaan dan keunikan tersendiri dalam penginstalan dan pengkonfigurasian. Nama yang beraneka ragam mulai dari RedHat, Fedora Core, CentOS, Mandriva, SlackWare, Damn Small Linux, wuah banyak lagiii....
Namun ada satu semangat dalam menggunakannya yaitu berkomunitas!!!
GNOME atau KDE boleh sama vesinya namun koq bisa beda ya antara Fedora Core dan Slackware, tapi tetep enaknya linux itu sama. Pokoke ENAK!
Hmmhhh... Itulah kata yang terungkap ketika sukes menginstall Bordeaux alias Fedora Core 5 di komputer ku tanpa hambatan. Memang semuanya berbeda sekali dengan Stenz yang konservatif. Fitur-fiturnya sangat menarik terutama fasilitas Pirut yang baru kali ini aku lihat, coba dan nikmati. Namun menurutku Yum Extender tetap yang terbaik untuk pengelolaan Paket Linux.
Orang jadi bisa karena biasa, namun apa yang terjadi??? Sempat terjadi kebingungan terutama meninstall Plugins Flash buat Moz dan Firefox. Cara lama yang manual, download dulu paket flash plugin dari macromedia kemudian isntall manual sempat tidak bisa berbuat banyak. Moz dan Firefox tetep mogok tidak mau menjalankan flash plugin. Namun temuan baru, pengalaman baru yang jadi ilmui baru pun aku dapat. Ternyata Bordeaux baru sukses menjalankan Flash Plugins setelah diinstal melalui yum (mo pake Pirut atau Yumex podo bae!!). Baru tahu sekarang bahwa ada juga repo dari Macromedia. Sukses YA!!! sekarang Bordeaux punya saya sudah cakep!
Akhirnya Fedora Core 5 dirilis juga meski sempat ditunda sejak 15 Maret 2006 yang baru lalu. Pagi ini, sedatangnya di kantor aku langsung hidupkan FC4 dan langsung juga buka situs FC dan.... Taraaaa! FC 5 SUDAH DI RILIS.
Download manager andalanku Downloader for X kutugasi buat mendownload seluruh CD (karena aku belon punya DVD Writer :-D)....
Yach.... wait and see....
Rasanya 2 nama ini tidak asing bagi pecinta Linux di manapun berada. G Network Object Model Environment atau GNOME dan K Desktop Environment yang terkenal disebut KDE. Dunia Linux menjadi lebih berwarna dan hidup dengan kedua Lingkungan Desktop ini.
Namun manakah yang paling mengesankan dan menjadi favorit tentunya para Linuxer akan mempunyai kecenderungan pada salah satu environment ini. Secara selera pribadi, GNOME lebih mudah dan lebih powerful dibanding dengan KDE yang hampir nyerempet2 miukanya Windoze. GNOME lebih mempunyai jati diri bahwa ini lah Desktop dari Linux ataupun Unix.
Namanya saja sudah Network Object Model jadi memudahkan buat bekerja di lingkungan network dibanding KDE. Browsing dengan menggunakan Samba lebih menyenangkan dan semudah kita memanfaatkan fasilitas jaringan di Windoze. Kalau tidak salah KDE membutuhkan paket aplikasi lain semacam smb4k untuk browsing jaringan lokal.
Aku coba install CentOS eh mirip RHEL 4, bahkan kernelnya pake EL 4 segala, cuman kelebihan CentOS ada yum nya sedangkan RHEL gak punya.
Aku bandingkan dengan FC4, diinstall pada kompie lawas PIII 733 MHz, CentOS masih bisa jalan normal senormal RH9 pada jamannya, tapi FC4 koq berat banget jika dipasang di kompie yang sama.
So mending mana FC4 atau CentOS 4?
Saya ini penggemar berat distro keluaran RedHat. Sejak RedHat 9 yang pertama ku coba dan kuinstall distro ini tidak mendukung format MP3. Awalnya sempet memble juga, pasalnya dah banyak banget koleksi MP3 yang aku punya dan pengen didenger di Linux. Temanku menyarankan bila ingin langsung enak pake saja Mandrake. Bener aja setelah RH9 di hilangkan dan pakai Mandrake 10 waktu itu, aku bisa senyum lebar dan mulai menikmati lagu-lagu kesayangaku dalam format MP3 di Linux. Bahkan VCD pun bisa dinikmati pake Mandrake.
Belakangan setelah sering surfing mengenai cara utak-atik linux, aku jadi gerah dan bosan pake Mandrake, timbul keinginan buat berpetualang sendiri dalam mengelola dan mengkonfigurasi Linux ku. Lalu kuputuskan buat banting stir lagi ke Distro yang lama RedHat 9, memble lagi katanya waktu itu RH9 discontinued yang berarti tidak akan disupport lagi oleh pembuatnya.
- RedHat 9
- Mandrake Linux 10
- Fedora Core 3
- Slack Ware
- Fedora Core 4
Jatuh Cinta dengan Fedora Core 4, sampe sekarang ndak mo coba distro lain. Fedora Core ku semakin cantik tiap hari, dia dapat melakukan apapun untuk kesenanganku. Makin lengket dengannya karena ada yum dan yum extender yang membuat Fecdora Core ku selalu up to date dan tambah canggih!
Beberapa hari lagi kan datang Fedora Core 5, pengen tahu kayak apa sih?
Recent comments
27 weeks 1 day ago
27 weeks 1 day ago
27 weeks 1 day ago
27 weeks 1 day ago
27 weeks 1 day ago
27 weeks 1 day ago
27 weeks 1 day ago
27 weeks 1 day ago
27 weeks 1 day ago
27 weeks 1 day ago