Awal tahun 2008, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan rencana pemerintah mengganti budaya menggunakan minyak tanah dengan gas (LPG). Lalu keluarlah program Konversi Minyak Tanah Ke Gas. Reaksi masyarakat langsung yang pasti protes sampai dengan demo.
Setelah program tersebut berjalan, mulailah keanehan-keanehan muncul, tiba-tiba saja minyak tanah menghilang dari pasaran. Yang banyak adalah gas, dari tabung 3 kg dan 12 kg. Sekarang harga gas mulai naik untuk kelas 50 kg (Rp 400 rb an) untuk industri, sedangkan 3 kg (Rp 13 rb an), dan 12 Kg (Rp 52 rb an).
Kalau di bandingkan ada perbedaan harga per Kg dari versi gas elpiji tersebut, 3 Kg=Rp 4000 an/Kg, 12 Kg=Rp4000 an/Kg, dan 50 Kg=Rp8000 an/Kg.
Jadi yang digunakan masyarakat masih ada subsidi sekitar Rp4000 an.
Apa bedanya dengan minyak tanah yang tak bersubsidi Rp 8600 dengan yang bersubsidi Rp2500.
Kenapa harus ada program konversi kalau tidak mengurangi subsidi, dijual saja LPG ke luar negeri, hasilnya untuk mensubsidi minyak tanah, tidak perlu ada program konversi yang perlu biaya kan....................................
Recent comments
51 weeks 6 days ago
51 weeks 6 days ago
51 weeks 6 days ago
51 weeks 6 days ago
51 weeks 6 days ago
51 weeks 6 days ago
51 weeks 6 days ago
51 weeks 6 days ago
51 weeks 6 days ago
51 weeks 6 days ago