Saved By Knoppix

Di luar negeri sana ada ungkapan Saved By The Bell (diselamatkan oleh bel). Saya tidak tahu, apakah ungkapan tersebut mengacu kepada para petinju yang terjatuh tetapi tidak jadi dinyatakan KO karena sebelum hitungan kesepuluh bel sudah berbunyi, atau mungkin mengacu pada para siswa sekolah yang akhirnya “selamat” dari guru mereka yang “killer” karena pelajaran sudah berakhir setelah bel berbunyi.
Ungkapan tersebut kali ini saya sedikit plesetkan menjadi “Saved By Knoppix” berdasarkan kejadian nyata yang saya alami beberapa waktu lalu. Ceritanya, salah satu teman baik saya baru saja membeli sebuah laptop tanpa OS. Ia memutuskan untuk meng-install Windows XP di atas laptopnya (mohon jangan meniru tindakan pembajakan yang dilakukan teman saya ini). Sialnya, CD Windows yang ia gunakan ternyata bermasalah karena ada beberapa file yang tak bisa disalin saat instalasi. Akibatnya, instalasi terhenti di tengah jalan.
Lebih sial lagi, ternyata dalam hitungan menit, pimpinan kantornya akan datang untuk mengambil salah satu berkas surat pengantar yang disimpan di laptopnya (surat tsb belum dicetak karena harus diperiksa ulang oleh sang pimpinan). Walhasil teman saya ini pun sedikit kelabakan.
Untungnya, ketika itu saya yang sedang main ke kantornya membawa setumpuk CD/DVD Linux. Ketika pimpinannya belum datang, saya sempat iseng menjalankan LiveCD Kubuntu. Ketika berhasil masuk desktop, dia langsung mengatakan bahwa semenjak dia membeli laptop (baru beberapa hari yang lalu), baru kali ini lampu tanda terdeteksinya Webcam menyala. Karena dia perlu mengedit surat tersebut terlebih dulu, ia menanyakan apakah Linux dapat digunakan membuka file MS Word. Saya langsung membukakan OpenOffice.org (OOo).
Hanya saja karena sebagai LiveCD, Kubuntu “menolak” mengakses isi Hard Disk dalam laptopnya, saya langsung berpikir untuk menggunakan Knoppix (yang untungnya saya membawa salah satu koleksi CD Knoppix saya). Karena saat itu juga, pimpinannya sudah datang, langsung saja saya boot laptopnya menggunakan Knoppix. Hampir semua hardware dikenali dengan baik. Setelah masuk desktop, saya menanyakan di partisi manakah dia menyimpan berkas surat tersebut. Setelah ketemu, saya buka menggunakan OOo dan membiarkannya meng-edit surat tersebut serta menyalinnya ke dalam USB Flash Disk.
Meski dia harus mencetaknya di ruangan lain (teman saya menempati ruangan baru sehingga belum mendapat fasilitas apapun dari pimpinan tertinggi), kali ini Knoppix bisa “menyelamatkan” teman saya, sehingga dapat menyelesaikannya tepat pada waktunya.

Comments

Comment viewing options

Select your preferred way to display the comments and click "Save settings" to activate your changes.

Kubuntu-nya bukan menolak,

Kubuntu-nya bukan menolak, tapi ...

Mas Alim, kubuntunya bukan menolak mengakses is hardisk. Tetapo harus di mount manual, gak seperti knoppix yg menjalankan kernel automounter-nya.

Caranya, buka terminal:

mkdir direktori

sudo mount -t ntfs-3g /dev/sda1 direktori

Dengan catatan:
/dev/sda1 adalah partisi windows (yang ada file doc) anda
-t ntfs-3g opsi untuk mount partisi ntfs read-write, opsi lainnya, silahkan man mount

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Saya pake Ubuntu, Anda juga pake ?
Tutorial Linux | Tutorial Web Technology | Belum punya web?
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::