Sejuta Linux LiveCD untuk Indonesia.

Ikut membicarakan IGOS, saya cukup heran jika pemerintah tak melakukan apa yang sudah dilakukan di Amerika Latin terutama Brazil. Pemerintah Brazil sudah bergerak lebih cepat seiring kesadaran tentang pentingnya penggunaan opensource, yaitu dengan mulai menerapkan penggunaan opensource di pemerintahan, pengadaan komputer-komputer murah dengan kondisi sudah terinstalasi Linux untuk warga ekonomi lemah dengan proyek "PC Conectado".

Ini dilakukan pemerintah Brazil untuk mempercepat penetrasi kesadaran penggunaan opensource software seperti Linux. Pemerintah Brazil bekerja sama dengan beberapa vendor Linux seperti Connectiva (yang baru merger dengan Mandrake menjadi Mandriva).

Saya bayangkan, Linux LiveCD adalah media yang sangat praktis untuk mempercepat penyebaran Linux sebagai pilihan produk opensource untuk sistem operasi. Pada situs web IGOS memang juga disediakan WinBI, tapi untuk download, tak semua orang punya kemewahan koneksi pita-lebar (broadband). Dan kantor mana yang membebaskan karyawannya menggunakan bandwidth terbatas mereka untuk men-download software semacam WinBI?

Jika PSN bisa mempersembahkan beberapa macam arsitektur yang bisa digunakan sebagai model-model IGOS. Barangkali akan jauh lebih menarik, jika arahan tentang sistem operasi seperti Linux juga datang dengan Linux siap pakai! Saya pikir Linux LiveCD adalah keniscayaan praktis saja, daripada berpikir menyebarkan Debian Sarge lengkap 14 cd atau bahkan Mandriva 10.2 (3 cd). Akan lebih mengesankan jika mendistribusikan kembali Knoppix light, Ubuntu LiveCD, PCLinuxOS atau distro baru/hasil remaster yang sudah dibundel menurut beberapa macam dan tingkat kebutuhan seperti: LTSP, Thin Client, Firewall, Desktop dengan Office Suite (openffice.org), Multimedia station dsb.

Menampilkan hal-hal tersebut dalam pameran saja, tak akan banyak membawa kesan tentang IGOS. Tapi yang lebih kongkrit adalah bekerja sama dengan banyak komunitas pengembang baik kalangan akademis, tukang oprek, tukang jaringan untuk turut terlibat.

Pemerintah bisa mewadahi, memberikan semacam gudang dan sarana komunikasi antar semua pihak. Adalah tugas pemerintah pula untuk memberikan rangsangan, motivasi maupun dana bagi keterlibatan partisipan pengembang. Tentu saja dana tak bisa dilepaskan. Proyek Debian, Gentoo atau Ubuntu yang ambisius itu meskipun pengembangnya adalah sebuah komunitas bebas non-komersial tetap membutuhkan dana riset dan pengembangannya.

Seperti yang dilakukan pemerintah Brazil, Linux bukan buat sekedar dipamerkan, tapi disebarkan secara nyata: gratis dan luas. Hitung saja, misalnya ongkos produksi 1 cd adalah 5000, maka untuk sejuta Linux LiveCD (hanya 1 cd lengkap dan siap digunakan dengan atau tanpa diinstalasikan ke hardisk) hanya butuh Rp. 5 milyar rupiah. Itu kira-kira hanya 0,016 dari dana TI KPU untuk pemilu tahun 2005.

Kalau sebarannya terutama diarahkan ke sekolah-sekolah dasar dan menengah, tentu dalam waktu 5 tahun saja saya kira sudah ada sejumlah besar komunitas pengguna dan pengembang baru yang muda dan agresif dengan ide-ide baru pula. Saya pernah saksikan sebuah sekolah dasar (yang tentu saja elit), dimana tiap siswa sedang menghadapi sebuah PC dengan sistem operasi komersial. Nah, bagaimana jika yang dihadapi adalah sistem operasi Linux? Adik-adik kita akan belajar mengenal lebih baik sebuah sistem operasi, lalu meminta orang tuanya di rumah mengisi PC mereka dengan sistem operasi yang sama dengan yang di sekolah. Bukankah lebih mudah jika, pada saat itu, mereka juga sudah membawa Linux LiveCD. Maka setelah booting, selanjutnya tinggal klik-klik instalasi liveCD ke hardisk. Butuh kira-kira cuma 30 menit saja untuk sebuah PC terisi dengan sistem operasi yang sama dengan Linux di sekolah. Itu akan terus berlanjut, dimana IGOS Linux LiveCD, bisa didapatkan di toko-toko buku, toko cd, koperasi sekolah, atau tersebar di warnet-warnet dan diantara teman-teman sekolah.

Oleh karena itulah harus tersedia beberapa Linux LiveCD untuk tingkat kebutuhan-kebutuhan tertentu. Sebagaimana lazimnya Linux LiveCD, juga tersedia panduan master/remaster distro IGOS yang telah disediakan. Sehingga masalahnya kemudian bukan lagi memilih distro atau instalasi, tapi lebih pada pemilihan aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan.

IGOS, sudah sampai mana? Mengundang partisipasi luas masyarakat untuk turut terlibat dengan jalan kampanye dan keyakinan penuh tentang sistem terbuka, masih jauh dari apa yang sudah dilakukan IGOS. Jika IGOS adalah sebuah gerakan, maka pemerintah pun punya gerakan lain: mengundang vendor komersial besar! Dua hal yang barangkali menurut pemerintah bisa sejalan, yah begitulah yang tertangkap di cara berpikir saya yang sederhana.

Mau mimpi sejuta Linux LiveCD bersama saya? Setidaknya bikinlah satu, dan kasih tahu teman-teman anda tentang indahnya sebuah kemungkinan yang terbuka.

Comments

Comment viewing options

Select your preferred way to display the comments and click "Save settings" to activate your changes.

iya-ya

Setuju sama cah4ngon emang IGOS nggak berani ama Pemerintah kalo cuma minta doit 5 Milyar doank dari pada dipake buat jalan-jalan doank ama anggota ###.
Hehe iya sich kampus gw juga make WINDOWS, jadi gw cuma taunya make produknya Om Bill doank!!!

se77 cekali

bgmana nih om-om yg diatas, bisa direalisasikan gak nih??

Budaya memakai, bukan berkreasi

Saya setuju dengan pendapat mas cah4ngon! Berhubung berkat Linus Torvald dkk yang menemukan sistem operasi hacker ini, kita diberi kesempatan untuk menggali kreativitas kita masing-masing (bayangkan bila kita harus membangun kernel sendiri). Sebenarnya potensi bangsa kita besar, hanya saja karena tradisi konsumerisme yg menjadikan kita terpuruk selama ini. Linux tidak hanya membangun software, tetapi juga komunitas besar yang terdiri dari orang-orang hebat yang bertujuan sama (organisasi ideal menurut saya)